Selasa, 02 Oktober 2012

Hakekat Filsafat Pendidikan Matematika

Berbicara mengenai filsafat pendidikan matematika, untuk mengartikannya bisa dipisahkan menjadi dua bagian, yaitu filsafat dan pendidikan matematika. Karena saat pendidikan matematika dispisahkan lagi menjadi pendidikan dan matematika akan menjadi tidak komperhensif. Pada dasarnya kata filsafat bisa digabungkan dengan banyak kata lainnya, misalkan dengan kata sains atau pendidikan sains. Seperti halnya kata dunia yang bisa digabungkan dengan banyak kata, missal dunia pendidikan, dunia anak-anak, dunia mahasiswa dan lain sebagainya.
Dalam mengartikan filsafat, ada beberapa asumsi/ anggapan yang dipakai sebagai pijakan. Namun, asumsi-asumsi itu harus dipilah dan dipilih karena ada hal-hal yang bersifat kontradiktif dengan filsafat itu sendiri. Filsafat dapat dipandang sebagai beberapa hal. Pertama, filsafat bisa dipandang sebagai olah pikir. Hal ini berarti, bagaimana seseorang yang berfilsafat mengolah pikirannya dalam menghadapi suatu hal. Bagaimana seseorang mengartikan sesuatu. Yang kedua, filsafat itu hidup, prinsip hidup. Berarti  metode berfilsafat adalah metode hidup. Dan hidup ini untuk semuanya. Semua yang hidup pasti memiliki nalar, perasaan dan pikiran. Dan orang yang hidup memiliki beberapa ciri-ciri, antara lain mengalami perubahan, selalu berusaha dan berikhitiar sehingga selalu dinamis tidak statis; berinteraksi dengan unsur lain/ makhluk lain, yaitu berinteraksi dengan lingkungan sekitar, dengan tumbuhan, dengan hewan, dan pastinya berinteraksi dengan manusia lainnya.; dan hidup itu harus mempunyai potensi yang harus dikembangkan. Potensi merupakan hal yang mungkin akan terjadi nantinya, sedangkan hal yang terjadi saat ini disebut sebagai kondisi faktual. Dalam beberapa hal, anak muda masih berusaha memperoleh fakta, yang tadi disebut sebagai potensi. Dan hidup itu untuk mencari solusi dengan sesuatu yang harmonis dan seimbang. Bahkan alam semesta pun selalu mencari keseimbangannya.
Selanjutnya, filsafat dapat diartikan bebas, bebas dari motif, bebas dari tekanan, bebas berpikir (free thinking), merdeka. Karena orang tidak dapat berfilsafat saat berada dalam tekanan. Asumsi bisa diartikan sebagai objek, sedangkan tata caranya merupakan metode. Asumsi yang pertama, dimensi orang dewasa dapat diturunkan dari dimensi orang tua atau dapat dinaikkan dari dimensi anak-anak. Misalnya rasa ingin tahu, anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, tetapi orang dewasa pu memiliki rasa ingin tahu, begitu juga dengan orang tua. Karena pada dasarnya setiap orang memiliki rasa ingin tahu. Orang dewasa telah memiliki komptensi bernalar. Komponen dasar yang harus dimiliki oleh seseorang untuk berfilsafat. Karena untuk berfilsafat, seseorang harus memiliki dua komponen, yaitu penalaran dan pengalaman. Orang dewasa telah memiliki penalaran yang cukup untuk berfilsafat, begitu pula dengan pengalaman. Karena selama hidup, seseorang pasti telah memiliki pengalaman dan orang dewasa pastinya memiliki pengalaman yang lebih dibandingkan dengan anak-anak.
Dalam filsafat Yunani kuno, didasarkan pada nama-nama dewa. Karena dewa diyakini dapat mendengar perintah-perintah Tuhan, yang kemudian oleh dewa diartikan dan disampaikan ke manusia yang ada di bumi. Dewa yang dimaksud adalah Dewa Hermeune. Yang sekarang ini, kata Hermeune berkembang menjadi kata Hermeutika yang dapat diartikan menerjemahkan dan diterjemahkan. Hidup ini pun adalah menerjemahkan dan diterjemahkan. Dan bumi merupakan contoh yang diciptakan Tuhan untuk manusia dalam belajar metode hidup. Seperti halnya bumi yang berotasi dan berevolusi, manusia pun melakukan pergerakan sebagai tiruan rotasi dan evolusi bumi. Pergerakan dari suatu tempat ke tempat lain, dan juga pergerakan dari waktu ke waktu. Sehingga sebenarnya tidak pernah berada di tempat dan waktu yang sama. Dan pada intinya, yang dipelajari dalam filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan segala sesuatu yang berpotensi mungkin ada.