Berbicara
mengenai filsafat pendidikan matematika, untuk mengartikannya bisa dipisahkan
menjadi dua bagian, yaitu filsafat dan pendidikan matematika. Karena saat
pendidikan matematika dispisahkan lagi menjadi pendidikan dan matematika akan
menjadi tidak komperhensif. Pada dasarnya kata filsafat bisa digabungkan dengan
banyak kata lainnya, misalkan dengan kata sains atau pendidikan sains. Seperti
halnya kata dunia yang bisa digabungkan dengan banyak kata, missal dunia
pendidikan, dunia anak-anak, dunia mahasiswa dan lain sebagainya.
Dalam
mengartikan filsafat, ada beberapa asumsi atau anggapan yang dipakai sebagai
pijakan. Namun, asumsi-asumsi itu harus dipilah dan dipilih karena ada hal-hal
yang bersifat kontradiktif dengan filsafat itu sendiri. Filsafat dapat
dipandang sebagai beberapa hal. Pertama, filsafat bisa dipandang sebagai olah pikir.
Hal ini berarti, bagaimana seseorang yang berfilsafat mengolah pikirannya dalam
menghadapi suatu hal. Bagaimana seseorang mengartikan sesuatu. Yang kedua,
filsafat itu hidup, prinsip hidup. Berarti
metode berfilsafat adalah metode hidup. Dan hidup ini untuk semuanya.
Semua yang hidup pasti memiliki nalar, perasaan dan pikiran. Dan orang yang
hidup memiliki beberapa ciri-ciri, antara lain mengalami perubahan, selalu
berusaha dan berikhitiar sehingga selalu dinamis tidak statis; berinteraksi
dengan unsur lain/ makhluk lain, yaitu berinteraksi dengan lingkungan sekitar,
dengan tumbuhan, dengan hewan, dan pastinya berinteraksi dengan manusia
lainnya.; dan hidup itu harus mempunyai potensi yang harus dikembangkan.
Potensi merupakan hal yang mungkin akan terjadi nantinya, sedangkan hal yang
terjadi saat ini disebut sebagai kondisi faktual. Dalam beberapa hal, anak muda
masih berusaha memperoleh fakta, yang tadi disebut sebagai potensi. Dan hidup
itu untuk mencari solusi dengan sesuatu yang harmonis dan seimbang. Bahkan alam
semesta pun selalu mencari keseimbangannya.
Selanjutnya,
filsafat dapat diartikan bebas, bebas dari motif, bebas dari tekanan, bebas
berpikir (free thinking), merdeka.
Karena orang tidak dapat berfilsafat saat berada dalam tekanan. Asumsi bisa
diartikan sebagai objek, sedangkan tata caranya merupakan metode. Asumsi yang
pertama, dimensi orang dewasa dapat diturunkan dari dimensi orang tua atau
dapat dinaikkan dari dimensi anak-anak. Misalnya rasa ingin tahu, anak-anak
memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, tetapi orang dewasa pu memiliki rasa
ingin tahu, begitu juga dengan orang tua. Karena pada dasarnya setiap orang
memiliki rasa ingin tahu. Orang dewasa telah memiliki komptensi bernalar.
Komponen dasar yang harus dimiliki oleh seseorang untuk berfilsafat. Karena
untuk berfilsafat, seseorang harus memiliki dua komponen, yaitu penalaran dan
pengalaman. Orang dewasa telah memiliki penalaran yang cukup untuk berfilsafat,
begitu pula dengan pengalaman. Karena selama hidup, seseorang pasti telah
memiliki pengalaman dan orang dewasa pastinya memiliki pengalaman yang lebih
dibandingkan dengan anak-anak.
Dalam
filsafat Yunani kuno, didasarkan pada nama-nama dewa. Karena dewa diyakini
dapat mendengar perintah-perintah Tuhan, yang kemudian oleh dewa diartikan dan
disampaikan ke manusia yang ada di bumi. Dewa yang dimaksud adalah Dewa
Hermeune. Yang sekarang ini, kata Hermeune berkembang menjadi kata Hermeutika
yang dapat diartikan menerjemahkan dan diterjemahkan. Hidup ini pun adalah menerjemahkan
dan diterjemahkan. Dan bumi merupakan contoh yang diciptakan Tuhan untuk
manusia dalam belajar metode hidup. Seperti halnya bumi yang berotasi dan
berevolusi, manusia pun melakukan pergerakan sebagai tiruan rotasi dan evolusi
bumi. Pergerakan dari suatu tempat ke tempat lain, dan juga pergerakan dari
waktu ke waktu. Sehingga sebenarnya tidak pernah berada di tempat dan waktu
yang sama. Dan pada intinya, yang dipelajari dalam filsafat adalah segala
sesuatu yang ada dan segala sesuatu yang berpotensi mungkin ada.
Berfilsafat
adalah berolah pikir yang reflektif. Dalam berolah piker ada tatarannya, yaitu
tataran atas dan tataran bawah. Tataran atas berupa logika sedangkan tataran
bawah adalah pengalaman. Dalam berpikir tidak selalu menggunakan pengalaman,
kadang hanya berdasar pada pengalaman orang lain, buku mau berita. Dan
pengalaman pun tidak selalu dengan berpikir karena sebagain besar manusi tidak
pernah memikirkan pengalamannya. Dan dengan berfilsafat itulah manusia
diajarkan untuk memikirkan segala sesuatu, termasuk pengalaman. Memikirkan
segala sesuatu yang ada di sekitar. Karena hanya orang-orang khusus saja yang
mau berpikir tentang sesuatu yang ada di sekitarnya. Dan hal ini berkaitan
dengan keoriginalitasan dalam berfilsafat. Yang dimaksud dengan original adalah pure
reason. Tidak mungkin seseorang murni, tidak terpengaruh sekitarnya.
Seperti halnya setetes air di laut, yang tidak mungkin tidak terpengaruh dari
berbagai air sungai yang bermuara ke laut yang dasarnya berasal dari daratan.
Begitu pun dalam berfilsafat. Pemikiran orang lain dapat dijadikan sumber untuk
mengembangkan pola piker kita. Untuk memurnikan pikiran kita dalam berfilsafat,
kita harus fokus dengan segala hal yang kita hadapi. Dengan konsentrasi pada
hal yang kita hadapi, itu akan memurnikan pikiran kita. Selain itu kita harus
menggerahkan segenap tenaga dan pikiran untuk fokus pada sesuatu hal tadi.
Objek
dalam berfilsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. Dan sesuatu yang
disebut ada itu adalah sesuatu yang nyata dan sesuatu yang disebut mungkin ada
adalah sesuatu yang ada di dalam pikiran kita. Dan sesuatu yang ada itu
merupakan yang sekarang dan lampau, sedangkan sesuatu yang mungkin ada itu yang
akan datang.
Dalam
berfilsafat itu harus mengacu pada tokoh tertentu, karena saat berfilsafat dan
tidak mengacu pada tokoh tertentu itu sama halnya dengan omong kosong. Karena
segala sesuatu itu pada dasarnya ada teorinya termasuk juga dengan filsafat.
Banyak tokoh-tokoh filsafat yang dapat dijadikan panutan dalam berfilsafat
dengan hasil pemikiran dan cara berpikir mereka.
Untuk
mengembangkan pola piker kita adalah dengan menggunakan pola hidup, contohnya
adalah bumi. Bumi yang selalu berotasi pada porosnya, selalu bergerak dinamis
untuk menemukan keseimbangannya. Karena sesuatu yang seimbang itu adalah
sesuatu yang bergerak. Sesuatu yang diam itu tidak akan dapat mencapai
keseimbangannya. Begitupun manusia, harus selalu bergerak secara dinamis untuk
dapat mencapai keseimbangannya. Saat mencapai keseimbangannya itulah manusia
dapat berfilsafat dengan baik. Gerak dinamis ini dapat dilakukan dalam hati,
yaitu dengan berdoa secara kontinu. Dalam filsafat, hal ini bisa disebut
sebagai berpikir harmoni. Karena saat manusia tidak berpikir secara harmoni
sama halnya dengan mayat hidup. Karena penyakit dalam berfilsafat adalah tidak
seimbang.
Dalam
berfilsafat juga harus kontekstual, sesuai dengan keadaan yang ada dan terjadi.
Dan berfilsafat itu dibangun dengan konteksnya. Untuk memulai filsafat dengan
baik dan benar adalah dengan menaati norma yang ada serta berpikir kritis.
Filsafat
itu harus dibuat bingung karena pada dasarnya kepastian adalah musuh dari
filsafat. Namun saat benar-benar bingung maka berhentilah memikirkan. Filsafat
juga diartikan mengembarakan hati. Namun jangan pernah berusaha untuk
merasinalkan semua yang ada di dalam pikiran dengan filsafat, karena itu
mungkin akan menjadikan kita sesat. Batas antara sesat dan tidak sesat, baik
dan buruk itu sangatlah tipis. Seperti halnya kulit bawang, kulitnya juga
merupakan isi sehingga sangat sulit dibedakan mana yang merupakan kulit dan
mana yang merupakan isi.
Berbicara
tentang keadilan, pada dasarnya kodrat manusia itu tidak bisa adil hanya bisa
berusaha untuk adil dalam segala hal. Sesungguhnya kita hidup dari
ketidakadilan itu, karena itu merupakan anugerah Tuhan.
Beranjak
berbicara mengenai mitos, mitos merupakan sesuatu yang tidak diketahui akan
tetapi dilakukan. Dan jika sudah menjadi keyakinan, maka itu bukan merupakan
mitos lagi. Matematika juga merupakan mitos, karena matematika adalah
pengandaian. Dan semua yang diandaikan itu hanya di dalam pikiran saja.
Kebersihan
hati untuk berpikir, kita hanya bisa berusaha untuk membersihkan hati dari
godaan setan dengan berserah diri pada Tuhan. Karena pada hakekatnya manusi
hanya bisa berusaha. Konsep awal, seringkali manusi mengabaikan hal ini padahal
awal merupakan segalanya. Dalam filsafat, konsep awal disebut dengan fondasi,
dan pemikiran-pemikiran dalam filsafat merupakan fondasi. Berfilsafat itu
berdimensi, naik turun horizontal. Berfilsafat juga merefleksikan pikiran dan
pengalaman yang dimiliki dengan referensi yang ada mungkin ada. Filsafat itu
bebas namun bertanggung jawab. Kebenaran dalam berfilsafat itu relatif dan
kontekstual. Benar itu cocok antara pengalaman dan kenyataan. Dan dalam
Matematika itu konsisten.
Ada
dua hukum di dunia ini yang paling mendasar, yaitu hukum identitas dan hukum
kontradiksi. Hukum identitas jika a sama dengan a, atau aku sama dengan aku.
Dan di dunia ini, hukum identitas tidak akan berlaku karena aku tidak akan
pernah sama dengan aku. Saat aku menyebut namaku yang pertama, tidak akan sama
dengan namaku yang disebutkan kedua, karena dilihat dari ruang dan waktu itu
berbeda. Jadi hukum identitas itu rumusnya subjek sama dengan predikat. Itu
tidak akan pernah terjadi, jika terikat ruang dan waktu. Yang benar-benar
subjek sama dengan predikat hanyalah Tuhan. Maka orang tidak akan pernah sama
dengan namanya, hanya Tuhan lah yang bisa menyamai namanya. Yang diucapkan
pertama akan berbeda dengan yang diucapkan kedua. Oleh karena itu, semua
matematika hanya benar saat masih dalam pikiran dan akan salah saat dituliskan,
dan ini hanya berlaku di filsafat.
Karena
hidup ini terikat ruang dan waktu, maka yang berlaku adalah hukum kontradiksi,
yaitu subjek tidak sama dengan predikat. Maka kita tidak akan pernah sama
dengan nama kita. Dengan demikian rumus untuk hukum kontradiksi adalah subjek
tidak sama dengan predikat.
Hukum
identitas dimana subjek sama dengan predikat kemudian dinamakan analitik, ilmu
yang bersifat analitik. Dan dalam matematika, ilmu analitik hanya terdapat
dalam pikiran. Karena yang ditulis, semuanya hanya mengandaikan. Sedangkan
hukum kontradiksi sifatnya adalah sintetik. Oleh karena itu, di dalam logika
sifat pengetahuannya analitik. Nilai kebenarannya diukur saat itu konsisten.
Sehingga matematika benar, saat itu konsisten. Dan juga bersifat apriori,
berpikir untuk kedepannya. Sedangkan di dunia ini, dunia pengalaman yang
terikat ruang dan waktu. Hukum yang berlaku adalah hukum kontradiksi dimana
nilai kebenarannya bersifat korespondensi.
Tiada
seorang filsuf pun yang mengaku dirinya filsuf, akan tetapi orang lain yang
mengakui. Tidak ada orang yang benar-benar menguasai filsafat, akan tetapi
hanya berusaha. Dan dalam berfilsafat harus bisa terjemah dan diterjemahkan.
Dan menerjemahkan bisa diartikan dengan silaturahim, dan silaturahim merupakan
cara yang alami untuk belajar. Dan dalam pembelajaran matematika, guru harus
menjadi fasilitator untuk siswa agar siswa bisa bersilaturahim dengan
matematika.
Romantisme
adalah yang benar itu yang romatis. Dan hidup ini adalah romantisme. Karena di
dalam kehidupan ini ada unsur keindahan dan unsur kasih saying, tetapi ada
unsure yang kuat yaitu unsur Yang Kuasa. Orang yang paling romantic adalah
orang yang paling berkuasa.
Objek
pertama dari filsafat adalah alat sehingga disebut filsafat alat. Dalam
filsafat tingkatan paling tinggi adalah refleksi, dimana di dalamnya terdapat
judgment. Dan tokoh-tokoh dalam filsafat itu yang ada dan mungkin ada. Filsafat
itu bersifat secepat cahaya, misal saat kita memikirkan sesuatu. Karena pikiran
akan berubah dengan sangat cepat. Dan semua yang ada dalam filsafat itu saling
berhubungan. Dan para filsuf merupakan pintu untuk masuk dalam filsafat. Dan
filsafat itu untuk orang dewasa, orang yang sudah cukup pengalaman dan
pemikiran. Filsafat juga terpengaruh ruang dan waktu.
Berfilsafat
itu banyak hal, pendapat para filsuf pasti harus diperhatikan, sejarah juga
harus diperhatikan, kemudian pikiran dan logika juga harus diperhatikan dan
juga pengalaman. Dan yang lebih penting lagi adalah kita mendeskripsikan lagi
yang lebih detail yang ada dan yang mungkin ada, kemudian mendeskripsikan sifat
berpikir dimana intuisi berada di dalamnya.
Semua
yang ada di dunia ini sedang menembus ruang dan waktu, orang yang belajar
filsafat, orang yang tidak belajar filsafat, anak-anak, hewan, tumbuhan dan
bahkan batu. Segala sesuatu yang menembus ruang dan waktu mengalami masa
lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Menembus ruang dan waktu bisa
sangat sulit dan juga bisa sangat mudah, saat tidur pun kita juga menembus
ruang dan waktu. Baik yang ada maupun yang mungkin ada, semua menembus ruang
dan waktu. Dan bahkan sesuatu yang tidak
diketahui pun menembus ruang dan waktu, termasuk kesempatan.
Ada
tiga hal yang perlu diperhatikan untuk menembus ruang dan waktu. Yang pertama,paham
tentang ruang dan waktu. Yang kedua, memahami tentang filsafat epistimologi.
Dan yang ketiga, memahami filsafat fundasionalism dan anti-fundasionalism.
Hal-hal tersebut diperlukan, agar dapat menembus ruang dan waktu dengan
tangguh.
Seseorang
yang belajar filsafat harus professional, yaitu lebi detail dan lebih rinci.
Pertama yang perlu dipahami adalah mengenai dimensi ruang dan waktu. Dimensi
ruang, dapat dijabarkan menjadi dimensi nol, dimensi satu, dimensi dua, dimensi
tiga, dimensi empat, dan seterusnya. Akan tetapi juga ada ruang-ruang yang
lain, baik secara horizontal maupun vertical. Salah satunya adalah ruang
berpikir para filsuf yang spiritualis. Maka setiap hari dan setiap waktu,
tiadalah orang yang menembus ruang. Seseorang itu material, formal, normatif
dan spiritual sehingga seseorang itu berdimensi tak berhingga.
Sedangkan
waktu, ada tiga macam waktu berkesinambungan, waktu berkelanjutan, dan waktu
berkesatuan. Selanjutnya adalah yang disebut fenomenologi dengan tokoh Husserr.
Isi pokok dari fenomenologi ada dua macam, yaitu abstraksi dan idealisasi.
Sebenar-benar manusia adalah abstraksi, karena manusia hanya dapat melihat satu
titik, tidak dapat melihat semua titik. Maka manusia harus memilih objek yang
dilihatnya. Dan manusia hanya bisa melihat yang ada di depannya. Berpikir juga
merupakan abstraksi, karena tidak bisa manusia memikirkan banyak hal dalam
waktu yang bersamaan. Begitu juga dengan berbicara, manusia tidak dapat
mengucapkan semua kata yang ada dalam pikirannya dalam waktu bersamaan.
Abstraksi juga dinamakan reduksi, memilih satu. Keterbatasan manusia merupakan
anugerah Tuhan kepada manusia. Dan hal-hal yang tidak dipilih akan ditempatkan
di “rumah epoche”. Dan orang sering tidak menyadari ini. Dalam belajar
matematika pun seseorang menggunakan rumah epoche untuk segala sesuatu yang
tidak diperlukan.
Fundasionalisme
harus berani memotong, yaitu kapan memulai. Sedangkan yang tidak tau kapan
memulai dinamakan intuisi. Manusia itu fundasionalism juga sekaligus intuisi,
itulah yang dinamakan hidup itu kontradiksi. Sebagian besar hidup manusia
adalah definisi.
Persoalan
filsafat dari sisi persoalannya sejak jaman dahulu sampai sekarang itu sama.
Karena semua mengalaminya, dari jaman Yunani, Mesir, jaman kuno. Sekarang pun
semua masih mengalami, karena itu merupakan olah piker, yaitu mengenai apa saja
yang pantas dipikirkan dan yang tidak pantas dipikirkan. Kalau kita bisa
berpikir, sejauh mana kita bisa memikirkannya. Kemudian bagaimana cara berpikir,
mengenai metode-metode yang digunakan dalam berpikir. Itu semua sama sejak awal
adanya filsafat hingga sekarang. Karena manusia diberi akal pikiran untuk
berpikir, hanya yang membedakan setiap manusia adalah tingkat kualitas
berpikirnya dan keluasannya.
Saat
jaman Yunani orang mempunyai mitos, sekarang pun orang-orang masih mempunyai
mitos. Mitos itu tidak selama negatif atau jelek, mitos pun juga mempunyai
manfaaat. Karena anak kecil belajar bukan belajar dari pemahaman, tetapi
belajar dari hal-hal yang mereka tidak mengerti dan itu dinamakan mitos. Orang
dewasa pun kadang masih melakukan mitos, yaitu megerjakan sesuatu yang tidak
mereka mengerti. Akan tetapi ini menjadi sangat aneh, saat orang dewasa
mengerjakan sesuatu akan tetapi tidak mengerti maksudnya. Maka mitos juga akan
sejalan dengan intuisi. Jadi anak kecil lebih banyak belajar dengan menggunakan
intuisi jika dilihat dari prosesnya. Bagaimana kita memahami besar-kecil,
panjang-pendek, luas-sempit, semua itu dipelajari dengan intuisi dan intuisi
diperoleh dari interaksi, ligkungan dan komunikasi.
Jika
orang Yunani mempunyai mitos, bahwa pelangi merupakan jembatan bagi para
bidadari. Kita mempunyai mitos, misalnya adanya kerjaan Nyai Roro Kidul di
pantai selatan. Karena semakin kuat mitos, terkadang membuat orang tidak berani
untuk memikirkannya.
Segala
yang ada dan segala yang mungkin ada selalu mempunyai dua sisi, yaitu
kekurangan dan kelebihan. Dari contoh di atas, kelebihannya orang-orang jadi
lebih menjaga pantai selatan. Dan sebenarnya, untuk lingkup yang kecil kita
dapat membuat mitos. Dan mitos pun kadang dibutuhkan, misalnya bagi seorang
raja. Mitos dibutuhkan untuk mendidik rakyatnya.
Dan orang yang hanya melakukan tanpa mengetahui
maksud dan tujuannya, berarti dia telah mempercayai mitos. Dan mitos bagi
sebagian orang bisa dipandang sebagai ilmu. Jadi itu hanya mitos di dalam
dirinya, dan ada juga mitos yang di luar dirinya. Manusia hanya bisa berikhtiar
secara intuisi.