Berfilsafat itu banyak
hal, pendapat para filsuf pasti harus diperhatikan, sejarah juga harus
diperhatikan, kemudian pikiran dan logika juga harus diperhatikan dan juga
pengalaman. Dan yang lebih penting lagi adalah kita mendeskripsikan lagi yang
lebih detail yang ada dan yang mungkin ada, kemudian mendeskripsikan sifat
berpikir dimana intuisi berada di dalamnya.
Semua yang ada di dunia
ini sedang menembus ruang dan waktu, orang yang belajar filsafat, orang yang
tidak belajar filsafat, anak-anak, hewan, tumbuhan dan bahkan batu. Segala
sesuatu yang menembus ruang dan waktu mengalami masa lampau, masa sekarang dan
masa yang akan datang. Menembus ruang dan waktu bisa sangat sulit dan juga bisa
sangat mudah, saat tidur pun kita juga menembus ruang dan waktu. Baik yang ada
maupun yang mungkin ada, semua menembus ruang dan waktu. Dan bahkan sesuatu yang tidak diketahui pun menembus
ruang dan waktu, termasuk kesempatan.
Ada tiga hal yang perlu
diperhatikan untuk menembus ruang dan waktu. Yang pertama,paham tentang ruang
dan waktu. Yang kedua, memahami tentang filsafat epistimologi. Dan yang ketiga,
memahami filsafat fundasionalism dan anti-fundasionalism. Hal-hal tersebut
diperlukan, agar dapat menembus ruang dan waktu dengan tangguh.
Seseorang yang belajar
filsafat harus professional, yaitu lebi detail dan lebih rinci. Pertama yang
perlu dipahami adalah mengenai dimensi ruang dan waktu. Dimensi ruang, dapat
dijabarkan menjadi dimensi nol, dimensi satu, dimensi dua, dimensi tiga,
dimensi empat, dan seterusnya. Akan tetapi juga ada ruang-ruang yang lain, baik
secara horizontal maupun vertical. Salah satunya adalah ruang berpikir para
filsuf yang spiritualis. Maka setiap hari dan setiap waktu, tiadalah orang yang
menembus ruang. Seseorang itu material, formal, normatif dan spiritual sehingga
seseorang itu berdimensi tak berhingga.
Sedangkan waktu, ada
tiga macam waktu berkesinambungan, waktu berkelanjutan, dan waktu berkesatuan.
Selanjutnya adalah yang disebut fenomenologi dengan tokoh Husserr. Isi pokok
dari fenomenologi ada dua macam, yaitu abstraksi dan idealisasi. Sebenar-benar
manusia adalah abstraksi, karena manusia hanya dapat melihat satu titik, tidak
dapat melihat semua titik. Maka manusia harus memilih objek yang dilihatnya.
Dan manusia hanya bisa melihat yang ada di depannya. Berpikir juga merupakan
abstraksi, karena tidak bisa manusia memikirkan banyak hal dalam waktu yang
bersamaan. Begitu juga dengan berbicara, manusia tidak dapat mengucapkan semua
kata yang ada dalam pikirannya dalam waktu bersamaan. Abstraksi juga dinamakan
reduksi, memilih satu. Keterbatasan manusia merupakan anugerah Tuhan kepada
manusia. Dan hal-hal yang tidak dipilih akan ditempatkan di “rumah epoche”. Dan
orang sering tidak menyadari ini. Dalam belajar matematika pun seseorang
menggunakan rumah epoche untuk segala sesuatu yang tidak diperlukan.
Fundasionalisme harus berani memotong, yaitu
kapan memulai. Sedangkan yang tidak tau kapan memulai dinamakan intuisi.
Manusia itu fundasionalism juga sekaligus intuisi, itulah yang dinamakan hidup
itu kontradiksi. Sebagian besar hidup manusia adalah definisi.