Minggu, 09 Desember 2012

Menembus Ruang dan Waktu


Berfilsafat itu banyak hal, pendapat para filsuf pasti harus diperhatikan, sejarah juga harus diperhatikan, kemudian pikiran dan logika juga harus diperhatikan dan juga pengalaman. Dan yang lebih penting lagi adalah kita mendeskripsikan lagi yang lebih detail yang ada dan yang mungkin ada, kemudian mendeskripsikan sifat berpikir dimana intuisi berada di dalamnya.
Semua yang ada di dunia ini sedang menembus ruang dan waktu, orang yang belajar filsafat, orang yang tidak belajar filsafat, anak-anak, hewan, tumbuhan dan bahkan batu. Segala sesuatu yang menembus ruang dan waktu mengalami masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Menembus ruang dan waktu bisa sangat sulit dan juga bisa sangat mudah, saat tidur pun kita juga menembus ruang dan waktu. Baik yang ada maupun yang mungkin ada, semua menembus ruang dan waktu. Dan bahkan  sesuatu yang tidak diketahui pun menembus ruang dan waktu, termasuk kesempatan.
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk menembus ruang dan waktu. Yang pertama,paham tentang ruang dan waktu. Yang kedua, memahami tentang filsafat epistimologi. Dan yang ketiga, memahami filsafat fundasionalism dan anti-fundasionalism. Hal-hal tersebut diperlukan, agar dapat menembus ruang dan waktu dengan tangguh.
Seseorang yang belajar filsafat harus professional, yaitu lebi detail dan lebih rinci. Pertama yang perlu dipahami adalah mengenai dimensi ruang dan waktu. Dimensi ruang, dapat dijabarkan menjadi dimensi nol, dimensi satu, dimensi dua, dimensi tiga, dimensi empat, dan seterusnya. Akan tetapi juga ada ruang-ruang yang lain, baik secara horizontal maupun vertical. Salah satunya adalah ruang berpikir para filsuf yang spiritualis. Maka setiap hari dan setiap waktu, tiadalah orang yang menembus ruang. Seseorang itu material, formal, normatif dan spiritual sehingga seseorang itu berdimensi tak berhingga.
Sedangkan waktu, ada tiga macam waktu berkesinambungan, waktu berkelanjutan, dan waktu berkesatuan. Selanjutnya adalah yang disebut fenomenologi dengan tokoh Husserr. Isi pokok dari fenomenologi ada dua macam, yaitu abstraksi dan idealisasi. Sebenar-benar manusia adalah abstraksi, karena manusia hanya dapat melihat satu titik, tidak dapat melihat semua titik. Maka manusia harus memilih objek yang dilihatnya. Dan manusia hanya bisa melihat yang ada di depannya. Berpikir juga merupakan abstraksi, karena tidak bisa manusia memikirkan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Begitu juga dengan berbicara, manusia tidak dapat mengucapkan semua kata yang ada dalam pikirannya dalam waktu bersamaan. Abstraksi juga dinamakan reduksi, memilih satu. Keterbatasan manusia merupakan anugerah Tuhan kepada manusia. Dan hal-hal yang tidak dipilih akan ditempatkan di “rumah epoche”. Dan orang sering tidak menyadari ini. Dalam belajar matematika pun seseorang menggunakan rumah epoche untuk segala sesuatu yang tidak diperlukan.
Fundasionalisme harus berani memotong, yaitu kapan memulai. Sedangkan yang tidak tau kapan memulai dinamakan intuisi. Manusia itu fundasionalism juga sekaligus intuisi, itulah yang dinamakan hidup itu kontradiksi. Sebagian besar hidup manusia adalah definisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar